Kamis, 10 Maret 2011

Landasan Filosofis Bimbingan dan Konseling


LANDASAN FILOSOFIS BIMBINGAN DAN KONSELING

A.       Makna Filsafat
Secara etimologis kata filosofis atau filsafat merupakan bahasa arab yang berasal dari kata Yunani filosofia (Philosophia). Filisofia merupkan kata majemuk yang terdiri dari kata filo (philos) yang artinya cinta dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin mengetahui segala sesuatu dan sofia (shopos) artinya kebijaksanaan atau hikmah. Dengan demikian, filsafat itu artinya cinta kepada kebijaksanaan atau hikmah; atau ingin mengerti segala sesuatu secara mendalam.
Ahli filsafat lain mengartikan bahwa filsafat tersebut adalah “suatu usaha manusia untuk memperoleh pandangan atau konsepsi tentang segala yang ada, dan apa makna hidup manusia di alam semesta ini.” (Sikun Pribadi,1981). Dapat diartikan juga sebagai perenungan atau pemikiran tentang kebenaran, keadilan, kebaikan, keindahan, religi serta sosial budaya.
Kalau dikaji secara umum, bahwa manusia selalu bertanya-tanya tentang makna atau hakikat segala sesuatu , termasuk hakikat dirinya sendiri. Pertanyaan tersebut misalnya : Apakah makna hidup itu? Dari mana asal manusia dan kemana perginya? Siapakah saya ini?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada dasarnya tidak mudah untuk dijawab karena memerlukan perenungan yang mendalam.
B.       Fungsi Filsafat
Pada dasarnya, mempelajari filsafat tidak hanya sebatas memikirkan sesuatu sebagai perwujudan dari hasrat atau keinginan untuk mengetahui sesuatu (coriosity), melainkan filsafat tersebut memiliki fungsi tertentu dalam kehidupan manusia. Fungsi tersebut antara lain, yaitu :
1.      Setiap manusia harus mengambil keputusan atau tindakan.
2.      Keputusan yang diambil adalah keputusan diri sendiri
3.      Dengan berfilsafat dapat mengurangi salah paham dan konflik
4.      Untuk menghadapi banyak kesimpangsiuran dan dunia yang selalu berubah
Dengan berfilsafat, seseorang akan memperoleh wawasan atau cakrawala pemikiran yang luas sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat. Dimana keputusan tersebut memiliki konsekuansi tertentu yang harus dihadapi dengan penuh tanggung jawab. Dalam hal ini menghadapi konsekuensi sebagai wujud tanggung jawab bukan berdasar suatu paksaan, melainkan lahir dari kesadaran akan nilai kemanusiaan yang melekat pada dirinya, yaitu bahwa manusia adalah mahluk yang bertanggungjawab atas perbuatan atau tindakannya sendiri.
Implikasinya adalah bahwa orang yang mencintai hikmah atau berpikir bijaksana (berfilsafat) dalam mengambil suatu keputusan akan senantiasa didasarkan pada pertimbangan yang matang untuk menemukan sesuatu yang dipandang baik atau bermakna bagi diri sendiri maupun orang lain. Sehingga keputusan yang diambilnya akan terhindar dari kemungkinan konflik dengan pihak lain, namun akan mendatangkan kenyamanan atau kesejahteraan hidup bersama, walaupun berada dalam kehidupan yang serba kompleks.
Pembahasan mengenai makna dan fungsi filsafat di atas dalam kaitannya dengan layanan bimbingan konseling, Prayitno dan Erman Amti (2003:203-204) mengemukakan pendapat Belkin (1975) yaitu bahwa “pelayanan bimbingan dan konseling meliputi kegiatan atau tindakan yang semuanya diharapkan merupakan tindakan yang bijaksana. ” Dengan demikian, bagi konselor diperlukan pemikiran filsafat tentang berbagai hal yang tersangkut-paut dalam pelayanan bimbingan dan konseling.
Pemikiran dan pemahaman filosofis menjadi alat yang bermanfaat bagi pelayanan bimbingan dan konseling pada umumnya, dan bagi konselor pada khususnya, yaitu membantu konselor dalam memahami situasi konseling dan dalam mengambil keputusan yang tepat. Disamping itu, pemikiran filosofis tersebut juga akan memungkinkan membantu konselor menjadikan hidupnya lebih mantap, lebih fasilitatif, serta lebih efektif dalam upaya penerapan segala bentuk tugas-tugasnya dalam membatu individu/konseli.




C.       Prinsip-prinsip landasan filosofis dalam bimbingan dan konseling
Selain pemahaman mengenai fungsi filsafat dalam hubungannya dengan konteks bimbingan konseling, maka perlu pula dipahami mengenai prinsip-prinsip yang tertuang dalam landasan folosofis tersebut. John J. Pietrofesa et.al. (1980: 30-31) mengemukakan bahwa terdapat beberapa prinsip yang terkait dengan landasan filosofis dalam bimbingan, yaitu :
a.         Objective Viewing / berpandangan objektif
Dalam hal ini konselor membantu klien agar memperoleh suatu perspektif tentang masalah khusus yang dialaminya, dan membantunya untuk menilai atau mengkaji berbagai alternatif atau strategi kegiatan yang memungkinkan klien mampu merespon interes, minat, atau keinginannya secara konstruktif.  Seseorang akan merasakan suatu dilema apabila dia tidak merasa mempunyai pilihan.  Dengan adanya layanan bimbingan dan konseling, maka klien akan dapat menggali atau menemukan potensi dirinya, dan kemampuan untuk beradaptasi terhadap bentuk-bentuk pristiwa hidup yang dialami klien.
b.         The Counselor must have the best interest of the client at heart.
Dalam hal ini konselor harus merasa puas dalam membantu klien menghadapi masalahnya. Konselor menggunakan keterampilannya untuk membantu klien dalam upaya mengembangkan keterampilan klien dalam mengatasi masalah (coping) dan keterampilan hidupnya (life skills).

Selain prinsip di atas, John J. Pietrofesa et.al. (1980) selanjutnya mengemukakan pendapat James Cribbin tentang prinsip-prinsip filosofis dalam bimbingan, yaitu :
1.        Bimbingan hendaknya didasarkan kepada pengakuan akan kemuliaan dan harga diri individu (konseli) dan atas hak-haknya untuk mendapat bantuan.
2.        Bimbingan merupakan proses pendidikan yang berkesinambungan. Artinya bimbingan merupakan bagian integral dalam pendidikan.
3.        Bimbingan harus respek terhadap hak-hak setiap klien yang meminta bantuan atau pelayanan.
4.        Bimbingan bukan prerogative kelompok khusus profesi kesehatan mental. Bimbingan dilakukan melalui kerjasama, yang masing-masing bekerja berdasarkan keahlian atau kompetensinya sendiri.
5.        Fokus bimbingan adalah membantu individu dalam merealisasikan potensi dirinya.
6.        Bimbingan merupakan elemen pendidikan yang bersifat individualisasi, personalisasi, dan sosialisasi.

D.      Hakikat Manusia
Landasan filosofis berkenaan dengan pandangan terhadap makna atau hakikat manusia. Hakikat manusia adalah suatu pandangan mengenai baimana manusia itu sebenarnya.Pemaknaan terhadap hakikat manusia tersebut biasanya dikembangkan sesuai dengan pendekatan suatu teori dalam bimbingan dan konseling. Di bawah ini terdapat beberapa para ahli /mazab konseling yang memaparkan tentang hakikat manusia, yaitu :
1.    Victor E.Frankl (Prayitno dan Erman Amti, tt 207-208) mengemukakan bahwa hakikat manusia itu, digambarkan sebagai berikut:
a.       Manusia, selain  memiliki dimensi fisik dan psikologi, juga memiliki dimensi spiritual. Ketiga dimensi tersebut harus dikaji secara mendalam jika manusia tersebut hendak dipahami dengan sebaik-baiknya. Melalui dimensi spiritualnya itulah, manusia mampu mencapai hal-hal yang berada di luar dirinya dan mewujudkan ide-idenya.
b.      Manusia adalah unik, dalam arti bahwa manusia mengarahkan kehidupannya sendiri.
c.       Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri.

2.    Sigmud Freud, mengemukakan pandangan mengenai hakikat manusia, yaitu:
a.       Manusia pada dasarnya bersifat pesimistik, deterministic, mekanistik, dan reduksionistik.
b.      Manusia dideterminasi oleh kekuatan-kekuatan irasional, motivasi-motivasi tak sadar, dorongan-dorongan biologis, dan pengalaman masa kecil.
c.       Dinamika kepribadian berlangsung melalui pembagian energi psikis kepada Id, Ego dan Superego yang bersifat saling mendominasi.
d.      Manusia memiliki naluri-naluri seksual (libido seksual) dan agresif; naluri kehidupan (eros) dan kematian (tanatos)
e.       Manusia bertingkah laku dideterminasi oleh hasrat memperoleh kesenangan dan menghindari rasa sakit (pleasure principal)

3.    Passons (Robert L. Gibson & Mariane H. Mitchel,1986:121) mengemukakan delapan asumsi tentang hakikat manusia menurut kerangka kerja teori konseling Gestalt yang dikembangkan oleh Frederick Perls (1884-1970) yang merupakan tokoh terapi konseling Gestal, yaitu:
a.       Individu memiliki kepribadian yang utuh, menyeluruh, bukan terdiri dari bagian-bagian badan, emosi, pikiran, sensasi,dan persepsi. Individu dapat dipahami apabila dilihat dari keterpaduan semua bagaian-bagian tersebut.
b.      Individu merupakan bagian dari lingkungannya, sehingga individu baru dapat dipahami apabila dilihat dari keterpaduan semua bagian-bagian tersebut.
c.       Individu memilih bagaimana dia merespon rangsangan internal maupun eksternal. Individu adalah aktor bukan reaktor.
d.      Individu memiliki kemampuan potensial untuk menyadari secara penuh semua sensasi, pikiran,emosi,dan persepsinya.
e.       Individu memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan, sebab ia menyadarinya.
f.       Individu memiliki kapasitas untuk membangun kehidupannya secara efektif.
g.      Individu tidak dapat mengalami masa lalu dan masa yang akan datang, tetapi dia hanya dapat mengalami masa sekarang.
h.      Individu pada dasarnya tidak dapat dikatakan baik atau buruk.
4.    Beck (Blocher,1974) mengemukakan pandangan tentang hakikat manusia, yaitu:
a.       Manusia bertanggungjawab terhadap perbuatannya sendiri. Dia mempunyai pilihan dan harus melakukan pilihan untuk dirinya sendiri.
b.      Manusia harus memandang atau memperhatikan orang lain sebagai bagian dari dirinya, dan perhatiannya ini direfleksikan dalam pergaulan dengan warga masyarakat yang lebih luas.
c.       Manusia eksis di dunia nyata,dan hubungan dengan dunianya di satu sisi merupakan ancaman yang dalam banyak hal tidak dapat merubahnya.
d.      Hidup yang bermakna harus menghilangkan ancaman yang dihadapi, baik pisik maupun psikis. Tujuannya adalah untuk membebaskan manusia dari ancaman, sehingga dapat mencapai perkembangan yang optimum.
e.       Setiap manusia memiliki pembawaan dan pengalaman yang unik, sehingga memungkinkan berprilaku yang berbeda satu sama lainnya.
f.       Manusia berprilaku sesuai dengan pandangan subjektifnya tentang realitas.
g.      Secara alami manusia tidak dapat dikatakan “baik” atau “buruk” (jahat).
h.      Manusia mereaksi situasi secara menyeluruh tidak bersifat serpihan (seperti hanya intelektual atau emosional).

5.    B.F. Skinner dan Watson (Gearld Corey, terjemahan E.Koeswara,1988) mengemukakan tentang hakikat manusia, yaitu :
a.       Manusia dipandang memiliki kecendrungan –kecendrungan positif dan negatif yang sama.
b.      Manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan social budayanya. Dalam arti bahwa lingkungan merupakan pembentuk utama keberadaan manusia.
c.       Segenap tingkah laku manusia itu dipelajari.
d.      Manusia tidak memiliki kemampuan untuk membentuk nasibnya sendiri.
6.    Albert Ellis (Gerald Corey,terjemahan E.Koeswara,1988) yang merupakan tokoh terapi konseling Rasional Emotif berpendapat bahwa hakikat manusia adalah sebagai berikut, yaitu :
a.       Manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat.
b.      Manusia memiliki kecendrungan-kecendrungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir, mencintai, bergabung dengan orang lain,serta tumbuh dan mengaktualisasikan diri.
c.       Manusia juga memiliki kecendrungan-kecendrungan ke arah menghancurkan diri, menghindari pemikiran, berlambat-lambat, menyesali kesalahan secara tak berkesudahan, takhyul, intoleransi, perfeksionisme,mencela diri, serta menghindari pertumbuhan dan aktualisasi diri
d.      Manusia dilahirkan dengan kecendrungan untuk mendesakkan pemenuhan keinginan, tuntutan, hasrat, dan kebutuhan dalam hidupnya; jika tidak segera mencapai apa yang diinginkannya manusia mempersalahkan dirinya sendiri ataupun orang lain.
e.       Manusia berpikir, beremosi,dan bertindak secara simultan. Jarang manusia beremosi tanpa berpikir,sebab perasaan-perasaan biasanya dicetuskan oleh persepsi atas suatu situasi yang spesifik.

7.    Carl Rogers (Gerald Corey,terjemahan E.Koeswara,1988:91), merupakan tokoh terapi konseling Client Centered mengemukakan tentang hakikat manusia, yaitu :
a.       Manusia menurut kodratnya adalah rasional
b.      Manusia berkecendrungan merusak dirinya maupun terhadap orang lain kecuali jika telah menjalani sosialisasi.
c.       Manusia tersosialisasi dan bergerak ke muka
d.      Manusia berjuang untuk berfungsi penuh
e.       Manusia memiliki kebaikan yang positif pada intinya yang mendalam
f.       Manusia dipercayai karena kooperatif dan konstruktif.

8.    Eric Berne (Gerald Corey,terjemahan E.Koeswara,1988:157), merupakan tokoh terapi konseling Analisis Transaksional memiliki pandangan mengenai hakikat manusia, yaitu :
a.       Manusia sanggup melampaui pengkondisian atau pemrograman awal (antideterministik).
b.      Manusia sanggup memahami putusan-putusan masa lampaunya dan mampu memilih untuk memutuskan ulang.
c.       Manusia memiliki kesanggupan untuk untuk tampil di luar pola-pola kebiasaan dan menyeleksi tujuan dan tingkah laku baru.
d.      Manusia memiliki pilihan-pilihan dan tidak terbelenggu oleh masa lampaunya.

9.    Aliran Humanistik, memiliki pandangan yang optimistik terhadap hakikat manusia. Para ahli teori humanistic (May, Maslow,Frankl, dan Jourard) mempunyai keyakinan tentang hakikat manusia, sebagai berikut:
a.         Manusia memiliki dorongan bawaan untuk mengembangkan diri
b.        Manusia memiliki kebebasan untuk merancang atau mengembangkan tingkah lakunya, yang dalam hal ini manusia bukan pion yang diatur sepenuhnya oleh lingkungan.
c.         Manusia adalah mahluk rasional dan sadar,tidak dikuasai oleh ketidaksadaran, kebutuhan irrasional, atau konflik.


E.       Tujuan dan Tugas Kehidupan
Hidup sebagai manusia merupakan mahluk yang memiliki kelebihan diabandingkan mahluk hidup lainnya, khususnya dalam segi pemikiran. Dengan kelebihan tersebut manusia dapat mengarahkan hidupnya sesuai dengan apang yang hendak dicapainya.
1.      Tujuan Kehidupan
Secara naluriah manusia memiliki kebutuhan untuk hidup bahagia, sejahtera, nyaman dan menyenangkan. Secara ekstrim, Freud mengatakan bahwa manusia dalam hidupnya selalu mengejar kenikmatan (pleasure principal) dan menghindar dari rasa sakit (kondisi yang tidak menyenangkan). Dapat dikatakan bahwa manusia hanya ingin menikmati kesenangannya saja dan selalu menghindar dari hal yang merugikan dirinya.

2.      Tugas Kehidupan
Prayitno dan Erman Amti (2002:10-13) mengemukakan model Witner dan Sweeney tentang kebahagiaan dan kesejahteraan hidup serta upaya mengembangkan dan mempertahankannya sepanjang hayat. Menurut mereka, ciri-ciri hidup sehat sepanjang hayat itu ditandai dengan lima kategori tugas kehidupan, yaitu:
a.    Spiritualitas. Dalam kategori ini, agama digunakan sebagai sumber inti bagi hidup sehat. Dimensi lain dari aspek spiritualitas ini adalah (1) kemampuan memberikan makna kepada kehidupan,(2) optimis terhadap kejadian-kejadian yang akan datang, dan (3) diterapkannya nilai-nilai dalam hubungan antar orang serta dalam pengambilan keputusan.
b.   Pengaturan Diri. Seseorang yang mengamalkan hidup sehat dalam dirinya memiliki ciri-ciri: (1) rasa diri berguna, (2) pengendalian diri, (3) pandangan realistik,(4) spontanitas dan kepekaan emosional, (5) kemampuan rekayasa intelektual, (6) pemecahan masalah, (7) kreatif, (8) kemampuan berhumor, dan (9) kebugaran jasmani dan kebiasaan hidup sehat.
c.    Bekerja. Dengan bekerja seseorang akan memperoleh keuntungan ekonomis (terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan), psikologis (rasa percaya diri, dan perwujudan diri), dan social (status dan persahabatan).
d.   Persahabatan. Persahabatan merupakan hubungan sosial, baik antar individu maupun dalam masyarakat secara lebih luas, yang tidak dapat melibatkan unsur-unsur perkawinan dan keterikatan ekonomis. Persahabatan ini memberikan tiga keutamaan kepada hidup yang sehat, yaitu (1) dukungan emosional, (2) dukungan material, (3) dukungan informasi.
e.    Cinta. Dengan cinta hubungan seseorang dengan orang lain cenderung menjadi amat intim, saling mempercayai, saling terbuka, saling kerjasama, dan saling memberikan komitmen yang kuat. Penelitian Flanagan (1978) menemukan bahwa pasangan hidup suami istri, anak,dan teman merupakan tiga pilar paling utama bagi keseluruhan penciptaan kebahagiaan manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Perkawinan dan persahabatan secara signifikan berkontribusi kepada kebahagiaan hidup.
Paparan mengenai hakikat, tujuan dan tugas kehidupan manusia di atas sebagai hasil olah pikir atau nalar (nadhar) para ahli mempunyai implikasi kepada layanan bimbingandan konseling. Dalam hal ini terutama terkait dengan perumusan tujuan bimbingan dan konseling, dan cara pandang konselor terhadap klien yang seyogyanya didasarkan kepada harkat dan martabat kemanusiaannya manusia.

F.       Landasan Filosofis Bimbingan dan Konseling bagi Bangsa Indonesia
Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis, etis maupun estetis. Landasan filosofis dalam bimbingan dan konseling terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang : apakah manusia itu? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut, tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada, mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern seperti yang dijabarkan dalam hakikat manusia di atas.
Bagi bangsa Indonesia yang menjadi landasan filosofis bimbingan dan konseling adalah Pancasila, yang nilai-nilainya sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri sebagai makhluk Tuhan yang bermartabat. Sehubungan dengan hal tersebut, maka program bimbingan dan konseling harus merujuk kepada nilai-nilai yang terkandung dalam kelima sila Pancasila tersebut. Pancasila sebagai landasan bimbingan dan konseling mempunyai implikasi sebagai berikut, yaitu:
1.    Tujuan bimbingan dan konseling harus selaras dengan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila. Dengan demikian tujuan bimbingan dan koseling tersebut adalah memfasilitasi individu/peserta didik agar mampu:
a.    Mengembangkan potensi, fitrah, atau jati dirinya sebgai mahluk Tuhan, dengan cara mengimani, memahami dan mengamalkan ajaran-Nya.
b.    Mengembangkan sifat-sifat yang positif,seperti respek terhadap harkat dan martabat diri sendiri dan orang lain, dan bersikap empati.
c.    Mengembangkan sifat kooperatif,kolaboratif, toleransi,dan altruis(ta’awun bilma’ruf)
d.   Mengembangkan sikap demokratis, menghargai pendapat orang lain,bersikap terbuka terhadap kritikan orang lain, dan bersikap mengayomi masyarakat.
e.    Mengembangkan kesadaran untuk membangun bangsa dan negara yang sejahtera dan berkeadilan dalam berbagai aspek kehidupan (ekonomi, hukum, pendidikan dan pekerjaan)
2.   Konselor seyogyanya menampilkan kualitas pribadi yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, yaitu beriman dan bertaqwa, bersifat respek, terhadap orang lain, mau bekerjasama dengan orang lain, bersikap demokratis, dan bersikap adil terhadap para siswa.
3.   Perlunya melakukan penataan lingkungan (fisik dan social budaya) yang mendukung terwujudnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan perorangan maupun masyarakat pada umumnya. Upaya-upaya yang bisa diimplementasikan, yaitu :
a.    Menata lingkungan hidup yang hijau berbunga dan bersih dari polusi udara, air dan limbah/sampah.
b.    Mencegah atau memberantas kriminalitas, minuman keras, judi, dan penggunaan obat-obat terlarang (seperti narkoba/Naza).
c.    Menghentikan tayangan-tayangan televisi yang merusak nilai-nilai Pancasila, seperti tayangan yang merusak aqidah dan akhlak (moral) warga masyarakat, terutama anak-anak dan remaja.
d.   Memberantas korupsi dan melakukan clean government (pemerintahan yang bersih)

DAFTAR PUSTAKA

Hall,Calvin,S. (1995). Introduction to Theories of Personality. United States : Public Art Collection
Dirjen PMPTK, 2007. Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal (Naskah Akdemik). Jakarta
Gendler, Margaret E..1992. Learning & Instruction; Theory Into Practice. New York : McMillan Publishing.
Corey, Gerlald. 2003. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Terj. E. Koswara), Bandung : Refika
Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya
Suherman, Uman. 2009. Manajemen Bimbingan dan Konseling. Bandung : Rizqi Press
Yusuf,S.,& Nurishan,J. 2009. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Yusuf,S.,& Nurishan,J.2008. Teori Kepribadian. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.



Menilai dan merubah budaya sekolah


Menilai dan Merubah Budaya Sekolah

A       Definisi Budaya Sekolah (Struktur, Guru, Siswa, Proses dan Produk)
Definisi budaya sekolah pada dasarnya berbeda-beda karena orang yang berbeda memiliki pemahaman yang berbeda mengenai budaya. Dalam literatur, konsep serupa mengenai  iklim sekolah, sering digunakan juga. Studi budaya sekolah, berasal dari antropologi dan studi budaya organisasi, dengan tujuan untuk meningkatkan lingkungan sekolah dengan memahami berbagai dimensi kehidupan sekolah. Dalam pengertian ini, budaya sekolah adalah segi konsep yang membuat perbedaan dalam efektivitas sekolah (Maehr & Midgley, 1996). Setiap sekolah mempunyai karakteristik dan semacam perbedaan psikologis sosial dalam kehidupannya sendiri. Karakteristik ini mungkin bersama dengan seperangkat prinsip pengorganisasian (Erickson, 1991); keyakinan dan nilai-nilai (Cunningham & Cresso, 1993); atau kebiasaan cara berpikir dan bertindak (Sarason, 1995). Sebuah budaya sekolah adalah "suatu sistem biasa, diambil untuk memberikan makna dan simbol-simbol secara eksplisit maupun implisit dan konten norma, nilai, keyakinan, asumsi, yaitu sengaja dan tidak sengaja, belajar dan berbagi antara anggota "(Erickson, 1987, p.1).
Dari perspektif organisasi, budaya sekolah mencakup tiga level (Schein, sebagaimana dikutip dalam Shaw & Reyes, 1992): mengamati perilaku (terlihat tetapi sering tidak dipahami, seperti artifak), nilai-nilai bersama (mungkin atau mungkin tidak terlihat, membutuhkan kesadaran yang lebih besar, anggota merasakan apa yang seharusnya); pada asumsi organisasi tentang realitas (tidak terlihat dan prasadar, seperti guru orientasi dan pandangan). Sifat spesifik personil sekolah bersama norma-norma, nilai, keyakinan dan asumsi mendefinisikan isi dari suatu sekolah cultute (Letihwood, 2002).
Sangatlah penting, budaya sekolah yang dibentuk oleh para anggotanya, termasuk guru, staf, siswa, orang tua dan masyarakat (Cunningham & Cresso, 1993). Sekolah tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial, sehingga pengembangan budaya sekolah yang tertanam di dalam organisasi sekolah, kebijakan, sumber daya, etos, sekolah kabupaten dan kebijakan negara, masyarakat lokal, lingkungan pendidikan profesional, sistem kerja, dan sosial budaya (Talbert & McLaughlin, 1999).

B       Pentingnya Budaya Sekolah
Faktor yang paling signifikan dalam membentuk pikiran adalah pengaturan budaya dimana pembelajaran berlangsung, peserta kegiatan terlibat didalamnya, dan diskusi di antara peserta (Wells & Claxton, 2002). Budaya sekolah yang telah ditemukan untuk memiliki dampak terhadap guru dan staf pengembangan dan pemberdayaan (Hamilton & Rchardson, 1995 Short & Rinehart, 1993), kolaborasi guru (Andringa & Fustin, 1991), akademik siswa dan perilaku sosial serta kinerja (McEvoy & Welker , 2000), aspirasi siswa (plucker, 1991), dan kemampuan diri sebagai konselor sekolah profesional dan harapan hasil (Sutton, Jr & Fall, 1995). Budaya sekolah sama pentingnya dalam mereformasi dan perbaikan di sekolah karena tidak mungkin sukses jika tidak ada lingkungan yang mendukung atau iklim untuk memberi perubahan.
Maehr dan Midgley (1996) berpendapat bahwa budaya sekolah terkait langsung dengan tujuan sekolah, yaitu motivasi dan belajar. Dengan kata lain, siswa, berinvestasi dalam belajar, apakah mereka melibatkan diri dalam kegiatan sekolah dan berapa banyak usaha yang mereka kemukakan adalah berkaitan dengan apa yang menekankan sekolah dan penghargaannya. Siswa mungkin akan berhenti jika sekolah menekankan demonstrasi kemampuan dan prestasi (hasil) melawan pendekatan tugas dan pertumbuhan (proses)
Yang dirasakan keluarga dan lingkungan sekolah sebagai siswa berdampak signifikan pada prestasi akademik. Menurut Marchant, Paulson & Rothlisberg (2001), konteks sekolah (reaksi guru, reaksi sekolah, dan mendukung lingkungan sosial) dan konteks keluarga (nilai-nilai orang tua) telah ditemukan secara signifikan berhubungan dengan motivasi siswa, kompetensi sekolah dan prestasi akademik. Demikian pula, lingkungan sekolah mempromosikan aspirasi prestasi akademik siswa yang lebih tinggi (Plucher, 1998). Kondisi lingkungan sekolah yang positif termasuk hubungan yang positif dengan orang dewasa, menghargai pandangan positif dalam hidup, dan menghargai keberagaman.
Setelah semua, bagaimana anggota di sekolah memahami dan merasakan tentang interaksi mereka dengan masalah-masalah lingkungan. Ini adalah suatu budaya yang membuat perbedaan terhadap guru, siswa dan staf yang tinggal di sekolah. "Kemasyuran tidak tumbuh keluar dari struktur dan fokus pada proses, tetapi ditemukan dalam budaya organisasi dan semangat dan purposefulness dari kehidupan orang-orang yang menjadi milik organisasi" (Cunningham & Cresso, 1993, hal.25)



C       Karakteristik Sekolah Efektif
Penelitian menunjukkan bahwa sekolah-sekolah yang efektif ditandai oleh sebuah budaya yang berfokus pada kolaborasi diantara semua pemegang saham, komunikasi terbuka, dan peningkatan berkesinambungan (Cunningham & Cresso 1993; Johnson, Snyder, Anderson, & Johnson, 1997; Smith & Scott, 1990). Secara spesifik, karakteristiknya  disajikan pada Tabel 1, dianggap untuk menetapkan dan mempertahankan keunggulan pendidikan.

D      Faktor-faktor yang tidak menguntungkan untuk Sekolah Efektif
DeWit et al. (2000) menemukan bahwa rendahnya dukungan guru dan teman sekelas, konflik siswa, peraturan sekolah tidak adil dan pelatihan disiplin, dan siswa otonomi rendah dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan lemahnya perlengkapan untuk belajar, masalah perilaku, kehadiran dan penyalahgunaan zat. Temuan serupa oleh Plucer (1998) juga menunjukkan bahwa kurangnya dukungan untuk rasa ingin tahu, rasa hormat para pemikir independen, dan perawatan dari orang dewasa cenderung untuk menurunkan siswa, dan aspirasi untuk belajar.

E       Menilai Budaya Sekolah
Menilai Tujuan Budaya Sekolah
"Rahasia untuk perubahan yang berhasil dalam sekolah adalah untuk mengidentifikasi budaya sekolah yang sudah ada dan membentuk kembali hal itu" (Bulach, 2001, p.8). Sebelum menerapkan perubahan, perlu untuk memahami apa yang terjadi di sekolah dan untuk memiliki gambaran lengkap dari praktek dan persepsi dari semua pemegang saham. Hal ini penting untuk mengetahui apa yang berhasil dan apa yang tidak bekerja. Jika tidak, perubahan akan kehilangan arah.
Tujuan lain menilai budaya sekolah meliputi: memberikan data dasar untuk evaluasi masa depan, kebutuhan untuk akuntabilitas (Milstein, 1993), fitur dan mengidentifikasi daerah-daerah yang positif untuk perbaikan, dan menyediakan informasi yang diperlukan perencanaan strategis musuh. Penting untuk dicatat bahwa penilaian adalah bagian integral dari restrukturisasi sekolah untuk hasil yang lebih baik, dan tidak alasan untuk kecemasan.



Tabel 1. Karakteristik sekolah yang efektif
1.      Anggota kunci bekerja sama untuk mengembangkan visi bersama tentang apa yang seharusnya sekolah seperti, berfokus pada visi, tidak kekurangan.
2.      Foster identitas individu dari anggota kelompok dan membangun hubungan kolegial di antara anggota.
3.      Kepercayaan, dukungan dan saling pengertian satu sama lain dalam organisasi.
4.      Akses terhadap informasi yang berkualitas untuk semua anggota.
5.      Terbuka dan komunikasi yang cair
6.      Mempromosikan pengembangan profesional seumur hidup dan pertumbuhan pribadi.
7.      Pemberdayaan individu-individu untuk mengambil risiko dan membuat perbedaan.
8.      Kolaborasi antara administrator, guru, orangtua, mitra masyarakat, dan mahasiswa untuk membuat keputusan.
9.      Keterlibatan pemuka pemangku dengan kepentingan yang tepat.
10.  Nilai-nilai bersama, kepentingan dan visi sekolah yang ideal.
11.  Perencanaan strategis oleh kelompok-kelompok di dalam organisasi
12.  Perbaikan terus-menerus yang inkremental dan sistematis.
13.  Menghargai pertumbuhan siswa dan perbaikan daripada sekedar prestasi
14.  Setiap siswa adalah penting dan memiliki hak yang sama untuk kesempatan yang cukup
15.  Akuntabilitas dan umpan balik yang terus-menerus pada hasil
16.  Perubahan berkelanjutan

2.6  Menilai Metode Budaya Sekolah
Karena konsep budaya sekolah sangat kompleks dan banyak segi, tidak ada satu sumber atau metode penilaian yang dapat menjawab semua pertanyaan. Berbagai informasi serta cara mengumpulkan beberapa informasi yang harus digunakan untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang berbagai aspek budaya sekolah. Budaya ini merupakan produk maupun proses, oleh karena itu strategi untuk menilai budaya sekolah harus mencakup proses ke dalam rencana penilaian.
Di mana mencari data. Catatan dan dokumen seperti buku-buku pedoman, pernyataan misi, pengumuman, laporan berkala mahasiswa, kalender sekolah, buku tahunan, dan laporan tahunan dapat menjadi sumber informasi untuk memahami aspek-aspek simbolis lingkungan sekolah (Wren, 1999). Peraturan sekolah, upacara, ritual dan rutinitas juga dapat memberikan informasi berharga tentang budaya sekolah. Begitu juga kebijakan sekolah tentang perilaku dan kinerja (yaitu, bagaimana pahala dan disiplin siswa yang dilakukan dalam domain non-akademis dan akademis).
Sumber data lain berasal dari ukuran subjektif para anggota dalam lingkungan sekolah. Persepsi anggota dan pengamatan dari operasi sekolah sangat penting karena mereka membangun "budaya". Para anggota dapat meliputi, tetapi tidak terbatas pada, guru, administrator, staf, paraprofessional, siswa, orang tua, mitra masyarakat, penjaga, sopir bus dan relawan.
Data interaktif yang terdiri dari informasi tentang interaksi di antara anggota dan praktik di sekolah berbagai pengaturan, misalnya, interaksi di antara administrator, staff dan guru dalam rapat, interaksi guru dan murid di kelas, bagaimana personil sekolah berinteraksi dengan orang tua, atau bagaimana siswa berinteraksi satu sama lain di ruang kelas, di taman bermain, dan di bus.
Bagaimana untuk mengumpulkan data. Metode pengumpulan data sangat tergantung pada data yang diperlukan dan tujuan penilaian. Keuntungan pengukuran formal dan penggunaan instrumen standar adalah reliabilitas dan validitas yang berkaitan dengan metode ini, tapi kerugiannya adalah biaya dan waktu yang digunakan. Saran-saran berikut ini mudah untuk digunakan dan biaya rendah dalam cara-cara pengumpulan data:
  • Merancang bagan untuk mengumpulkan informasi terkait dari catatan dan dokumen tentang alam, frekuensi, intensitas, dan ruang lingkup kegiatan
  • Wawancara para anggota dalam organisasi tentang persepsi dan pemahaman mereka tentang sekolah atau aspek tertentu dari kehidupan sekolah.
  • Mengembangkan kuesioner kepada masukan peserta tentang berbagai aspek budaya sekolah. Isi format kuesioner harus konsisten dengan tujuan penyelidikan serta target peserta. Sebagai contoh, kuesioner mengenai alokasi sumber daya mungkin berarti berbeda bagi guru dan siswa.
  • Pengamatan tersebut pasangat berguna ketika diperlukan data yang interaktif. Profesional konselor sekolah bisa pergi ke ruang kelas, rapat staf, mahasiswa-kegiatan yang berorientasi, dll untuk membuat pengamatan sebagai peserta atau hanya sebagai pengamat. Yang diajukan catatan dan peralatan audio atau video dapat dimanfaatkan untuk mendokumentasikan pengamatan.
  • Informal, biaya efektif indeks kartu (Bulach, 2001) metode dapat digunakan untuk memahami guru dan siswa 'harapan tentang lingkungan sekolah dan gaya kepemimpinan administrator. Metode ini juga dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang bagaimana perubahan tertentu dirasakan oleh para pemangku kepentingan di sekolah. Menulis tanggapan terhadap satu pertanyaan pada satu kartu indeks membuatnya lebih mudah dan lebih sedikit tenaga kerja-intensif untuk menganalisis.

Gambar 1 Penyedianan informal " Rentang Penilaian Budaya Sekolah " membantu sekolah dalam menilai budaya.
2.7.      Standarisasi Instrumen
Di antara alat-alat untuk mengukur iklim sekolah dan lingkungan, yang paling populer adalah Charles F Kettering Ltd (CFK) Profil Iklim Sekolah (Johnson & Johnson, 1995). Profil Iklim Sekolah CFK mempunyai empat bagian, yaitu : Faktor-Faktor Iklim Umum, Program Determinan, Proses dan Bahan Determinan, Determinan untuk total 120 soal. Bagian dari Faktor-faktor Iklim Umum yang paling sering digunakan dalam penelitian dan memiliki 8 sub: hal, kepercayaan, semangat yang tinggi, kesempatan untuk masukan, akademik dan sosial yang terus-menerus mengalami pertumbuhan, kekompakan, pembaharuan sekolah dan perhatian. Beberapa studi (Dixon & Johnson, 1991; Johnson & Johnson, 1992a; 1995) menemukan skala valid untuk tujuan yang dimaksud, tapi sub yang berbeda yang mungkin tidak sesuai dengan rancangan aslinya. " Pekerjaan apa " dan "apa yang tidak dikerjakan" tampaknya menjadi dua struktur baru yang mendasari sub. Tabel 2 memuat langkah-langkah lain yang digunakan untuk menilai iklim dan lingkungan sekolah.

2.8.      Strategi untuk Mengubah Budaya Sekolah
" Membangun budaya mewajibkan sekolah memberikan perhatian pemimpin informal, halus dan aspek simbolis kehidupan sekolah yang membentuk kepercayaan dan tindakan setiap karyawan di dalam sistem" (Cunningham & Cresso, 1993, hal.25). Diskusi tentang budaya sekolah ini lebih sering ditemukan dalam literatur administrasi pendidikan Namun, tidak berarti peran kepemimpinan hanya dapat diambil oleh pelaku. Pada kenyataannya, konselor sekolah harus profesional dan dapat mengambil peran kepemimpinan untuk mengubah budaya sekolah (Littrell & Peterson, 2001). Konselor profesional sekolah juga memiliki keterampilan untuk menjembatani aturan administrasi sekolah dan keperluan sekolah bagi siswa (Kaplan, 1995).
Sebuah pembagian tujuan adalah sangat penting. Konselor profesional sekolah berada dalam posisi untuk membantu masyarakat sekolah mengembangkan misi dan tujuan bersama. Bekerja dengan kepala sekolah dan anggota lain, konselor profesional sekolah dapat membantu menciptakan ruang yang aman, tertib dan lingkungan yang bersih, menjaga ketertiban, keteraturan, dan prediktabilitas, bersih menentukan harapan dan norma-norma, dan mempertahankan perubahan (Maehr & Midgley, 1996). Konselor profesional sekolah menunju dimensi pelatihan afektif tentang budaya sekolah. Mereka harus bekerja dengan guru untuk memasukkan tujuan-tujuan berikut ke dalam kurikulum: memperlakukan setiap siswa dengan martabat dan sebagai seorang individu yang dapat belajar dan menjadi sukses di sekolah; mengubah pemikiran dari "siswa sendiri dalam sebuah kelas terisolasi" ke "siswa kami dalam tim dan keluarga "(Burrello & Reitzug, 1993, p.672); membuat kesempatan bagi siswa untuk mengidentifikasi makna dan relevansi di sekolah mereka pengalaman dan kehidupan masa depan (Kaplan & Geoffroy, 1990); mempromosikan guru dan murid kepemilikan dan investasi dalam pertumbuhan mereka sendiri; terbuka dan mengembangkan keterampilan komunikasi yang efektif; memecahkan masalah dengan solusi daripada berfokus pada korban; dan menyajikan bermakna dan menarik pelajaran dan unit studi (Ediger, 1997).
Konselor profesional sekolah, berada dalam posisi yang unik dengan berinteraksi terhadap setiap anggota di sekolah, memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan budaya sekolah (Kaplan & Geoffroy, 1990). Kegiatan berikut meringkas apa konselor sekolah profesional dapat dilakukan untuk mempromosikan perubahan budaya sekolah:
·         Mengidentifikasi perlunya perubahan dengan melakukan penilaian dan budaya sekolah avaluation
·         Advokasi untuk perubahan dalam mengatasi kebutuhan yang tak terpenuhi dari guru dan siswa dan anggota lain dari sekolah. Setiap pemain harus sehat dan bahagia untuk membuat sistem bekerja.
·         Berkolaborasi dengan administrator untuk mengembangkan secara jelas dan adil kebijakan dan peraturan sekolah untuk disiplin dan kinerja.
·         Memberikan pelayanan dalam pelatihan untuk guru dan staf untuk membantu mereka berinteraksi secara lebih efektif dengan semua siswa tanpa memandang latar belakang mereka.
·         Berkoordinasi dengan setiap anggota dalam sistem sekolah untuk menemukan makna dalam pengalaman umum dan rasa memiliki dan komunitas.
·         Mengambil inisiatif dalam mengembangkan rencana strategis yang proaktif dan berfokus pada perbaikan terus-menerus.
·         Memfasilitasi keterlibatan anggota dalam reformasi dan perbaikan sekolah
·         Lakukan perubahan secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan.

Gambar 1. Rentang Penilaian budaya sekolah
AREAL
Apa sekarang
Apa yang harus dilakukan
Strategi untuk Perubahan
VISI/MISI
Sejauh mana sekolah telah mencapai tujuan dalam "apa yang harus" didaftarkan?

Setiap siswa adalah penting dan pantas mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Mempromosikan sekolah pengembangan profesional seumur hidup dan pertumbuhan pribadi. Semua anggota komunitas sekolah dan terlibat dalam proses pendidikan. Sistem imbalan harus adil dan fokus pada peningkatan / pertumbuhan bukan semata-mata prestasi akademik.
Apa yang dapat dilakukan untuk mengubah budaya sekolah di daerah ini?

KOMUNIKASI

Terdapat saluran terbuka untuk semua orang untuk mengutarakan / pendapatnya. Ada sistem untuk semua pemegang saham untuk bertukar informasi dan ide. Semua anggota memiliki akses yang sama terhadap informasi. Misi sekolah dan kebijakan yang jelas dikomunikasikan kepada semua pemegang saham melalui beberapa metode.

Hubungan

Ada kepercayaan dan saling pengertian satu sama lain dalam organisasi. Administrator dukungan guru bekerja dan Vica versa. Guru dan siswa menjaga hubungan kepercayaan

Nilai bersama

Anggota dalam organisasi berbagi nilai-nilai, kepentingan dan visi sekolah yang ideal. Perencanaan strategis harus dibagi oleh semua anggota. Semua anggota percaya pada misi sekolah

Kolaborasi

Setiap keputusan dalam dibuat dengan kolaborasi antara administrator, guru, orangtua, mitra masyarakat, dan mahasiswa. Semua pemegang saham melakukan perencanaan strategis bersama-sama.

Struktur

Organisasi harus dapat mempertanggungjawabkan misi. Struktur organisasi secara efektif dirancang dan ditujukan untuk mencapai keunggulan. Setiap anggota dalam organisasi bertanggung jawab untuk diri bertanggung jawab.

Lingkungan Fisik

Gedung sekolah harus bersih dan nyata. Lingkungan sekolah harus mengundang dan ramah bagi siswa dan orang tua. Kelas harus memiliki fasilitas dasar untuk belajar.



Tabel 2. Instrumen penilaian lain untuk menilai iklim sekolah dan lingkungan
Penilaian
Deskripsi
1.      Yang Litwin dan Stringer Kuesioner Iklim



2.      Halpin dan Croft's Organisasi Iklim Description Questionnaire (Halpin, 1996)
3.      The Likert profil sekolah Questionnaire


4.      Karakteristik Sekolah Tinggi Index (Stern & Richman, 1964)



5.      Sekolah Dasar yang Brookover Iklim Sosial Questionnaire (Brookover, 1978)



6.      Kualitas kehidupan Sekolah Skala (Epstein & McPartlland, 1976; Johnson & Johnson, 1992b)



7.      Administrator Sekolah Penilaian Survey (Braskamp & Maehr, 1985)
50 di menilai 8 dimensi: struktur, tanggung jawab, imbalan, resiko, dukungan, standar, konflik dan mengidentifikasi.

64 item mengukur tingkat kepuasan interaksi kepala sekolah dengan guru.

100 items bertujuan mengukur komitmen, proses pengambilan keputusan dan kerjasama tim.
300 item menilai persepsi guru dan siswa iklim 'sikap dan perasaan tentang lingkungan sekolah mereka, kurikulum, staf, kegiatan dan minat siswa.

115 item menilai kontribusi relatif komposisi dan variabel iklim (yang berkaitan dengan guru, siswa dan kepala sekolah) untuk perbedaan dalam prestasi sekolah (Johnson & Johnson 1992a)

27 item mengukur siswa 'reaksi umum ke sekolah, tingkat mahasiswa, minat dalam tugas sekolah, dan sifat dari hubungan guru-murid.

19 skala administrator sekolah menilai persepsi budaya dari distrik sekolah, dan persepsi mereka terhadap kesempatan kerja, lingkungan individu dan pengembangan pribadi, dan budaya atau iklim lingkungan kerja.
Daftar Rujukan :
Sukardi, Ketut. 2008. Pengantar Pelakasanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta
Suherman, Uman. 2009. Manajemen Bimbingan dan Konseling. Bandung : Rizqi Prees
http://warnadunia.com/pengantar-bimbingan-konseling